mirror mirror on the wall, who’s better ? past me or present me ?

mirror_mirror-vanity-a_wicker_apple_reflects_as_a_real_apple-conceptual_photograph_by_Huba_Rostonics-IMG_6655

“I’ve learned-that it’s taking me a long time to become the person I want to be.”

Setidaknya, itulah yang dia katakan padaku barusan. Aku ingat kata-katanya 6 atau 7 tahun yang lalu.

“Sebenarnya aku ini pemboros,
selalu membuang pasir waktu yang ada dalam genggaman,
sehingga bulan dan matahari terus berevolusi.
Meski terkadang aku meminta hal yang gila
seperti, berbalik arah meski hanya satu putaran..
hanya untuk mengoreksi beberapa kejadian yang kusesali.

Seharusnya aku lari dari planet ini.
Ke mana? entahlah itu belum aku pikirkan.
Atau.. aku lebih baik diam di ruang kosong?
Terus mengisi tiap detik berbincang dengan orang yang tinggal di kepalaku.”

Tahukah? Jika dia tetap seperti itu.. sungguh menyedihkan. Bukan keseluruhan sifatnya yang kumaksud. She’s perfectly FINE.. tapi bagian negative yang terus dia pupuk tanpa sadar itu yang aku tidak suka. Siapa bilang masalahnya mudah? Dan siapa bilang dia bukan orang yang positive? Lagi-lagi bukan itu yang kumaksud. Sebenarnya seseorang tidaklah terganggu dengan suatu hal tetapi dari cara pandangnya terhadap suatu hal itu. Hei, jika dia bisa lihat lebih dekat, dia akan mendapatkan bagian terbesar dari ketidakbahagiaannya bukanlah dari situasi tetapi dari apa yang dikatakan “orang yang tinggal di kepalanya.” Ya. “Dia” adalah the self-talk in her head. Dengarlah, “dia” adalah sebuah ego yang dis-fungsional sehingga terus melemahkannya. Aku tidak mengatakan bahwa setiap orang dilarang negative. Lebih tepatnya, jadilah orang positive yang realistis.

Satu hal lagi. Aku harap dia berhenti menyalahkan dirinya.

“Kini.
Ada yang dari diriku,
dan ada pula yang baru menjadi bagian pribadiku.
Aku berada di antara,
akhir masa lalu di awal masa depan.
Aku ada di tengah-tengah sebuah bidang.
Perubahan.”

Tak ada salahnya dia berubah selama itu demi kebaikan. Ketika dia berubah maka dia berbeda. Benarkah? Aku sih biasa saja, hanya saja orang-orang di luar sana yang terkadang tidak sejalan dengan apa yang kupikirkan. Sebenarnya di dunia ini manusia tetap “sama” tidak ada yang “berbeda”. Ada yang tidak setuju? Tunggu, ijinkan aku jelaskan dengan cara pandangku sendiri. Seperti, bayi merangkak, dewasa berjalan, tua membungkuk. Inilah “sama” yang kumaksud. Kenapa harus mendapatkan tajamnya mata ketika melihat perbedaan darinya lalu menghilangkan sifat-sifat kebaikan yang ada? Atau ada sebuah lidah yang berkata bahwa dirinya itu pura-pura dan sekedar topeng belaka? It doesn’t make sense. Jangan dengarkan. Berubahlah, berbedalah. Aku tak ingin melihat mendung dan hujan di wajahnya terlalu lama. Banyak jemuranku yang tak kering olehnya. Aku suka cuaca cerah begitupun senyumnya.

We could learn a lot from crayons: some are sharp, some are pretty, some are dull, some have weird names, and all are different colors….but they all exist very nicely in the same box. Semoga dia menjadi warna yang dia sukai, walaupun tiap waktu berbeda warnanya, tak apa, karena warna apapun yang dia sukai tidaklah membuat dia berbeda. Dia tetaplah dia.

Terakhir.

“You must know that someone who thinks you’re great has thought about you today..
and that person was me.”

Thanks, mirror.”

“You’re welcome. It was nothing.”

rini lestari | bandung, 27 mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s